Sejauh perjalananku keluar masuk hutan belantara, begitu banyak hikmah yang telah kudapat. Ternyata ilmu yang kudapat pada saat sekolah dan kuliah sangat sedikit sekali. Namun sesedikitpun ilmu yang kudapat didalam ruangan menjadi modal untuk terus menyeruak hikmah-hikmah kehidupan. Sedikit demi sedikit aku mulai mengerti untuk apa alam ini diciptakan dengan segala isinya.
Ternyata didalam hutan bukan hanya beraneka jenis pohon yang kudapat, akan tetapi juga terdapat beragam jenis bunga, liana, semak,dan tumbuhan lainnya yang sebelumnya belum pernah kutemui. Beragam satwaliar seperti aneka macam burung, primata, mamalia, amphibi yang berfungsi secara ekologis bagi lingkungan hidup. Akan tetapi selama tiga dekade terakhir (samapi pertengahan tahun 1997 ketika krisis moneter mulai menghantam)Indonesia mengalami pembangunan yang begitu pesat. Hampir sebagian besar hasil pembangunan ini berbasis sumberdaya alam seperti hutan, minyak, batubara dan bahan mineral lainnya. Kemajuan ini telah terbukti membuat masyarakat terlena. Padahal di balik layar pertumbuhan ekonomi ini hutan-hutan alam tropis, khususnya di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi yang merupakan pusat distribusi burung, primata dan berbagai jenis hidupan liar lainnya, terus dibuka dan ditebang tanpa kendali yang efektif, dan hutan yang masih tersisa menurun drastis kualitasnya, bahkan banyak yang hancur. Kehancuran habitat inilah yang berdampak merugikan bagi berbagai jenis burung, primara dan hidupan liar lainnya, yang pasti segera lenyap dari bumi Indonesia. Hal ini dapat kulihat jelas manakala berada didalam pesawat terbang yang melintas di atas pulau Kalimantan, hanya sedikit sekali hutan yang tersisa, selebihnya sudah menjadi danau-danau kecil akibat pengerukan bahan tambang atau menjadi perkebunan kelapa sawit yang rakus akan unsur hara.
Oleh karena itu, sisa habitat yang sekarang masih dapat mendukung kehidupan burung, primata dan berbagai satwaliar lainnya perlu dipertahankan. Karena tekanan yang mengancam kehidupan satwaliar sangat kompleks, usaha-usaha untuk melindunginya hanya dapat dipecahkan secara terpadu, yang mempertimbangkan aspek etika (hubungan manusia dengan satwaliar), kebijakan pengelolaan kawasan hutan dan kawasan konservasi, ekologi, penegakan hukum dan tindakan lainnya. Untuk melaksanakannya diperlukan dukungan jaringan masyarakat yang mampu mengambil keputusan yang tepat berdasarkan informasi yang ada.
Sunday, May 31, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
1 comment:
blog mu cukup menarik posting lebih banyak lagi tentang satwa liar
Post a Comment